Tampilkan postingan dengan label Pendidikan anak usia dini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan anak usia dini. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

Eat Locally, Work Globally
Biar Makan Tempe, Tetap Pede

Hayooo...apa yang bakal langsung terlintas di pikiran kita-kita saat ditanya mau ngapain setelah lulus sekolah atau kuliah? Kebanyakan dari kita pasti langsung kepikiran untuk bekerja sesuai dengan kesukaan dan keahlian kita...

Bayangan kita tentang kerja bisa macem-macem, entah kerja bakti, jadi karyawan, buka distro atau perusahaan kreatif, sampai-sampai jadi caleg (secara kita lagi demam pemilu legislatif nih!). Walaupun bayangan ideal tentang dunia kerja bisa beda-beda (apalagi buat kita yang katanya masih keren, eh, labil..), kita bisa mempersiapkan diri mulai sekarang.

Pas banget, Binus Language Training Center (BNLC) menyelenggarakan seminar menyangkut dunia kerja pada hari Selasa, 23 Maret 2009. Seminar gratis yang bertema ”Preparing Excellent Interview in English for Your International Career” ini ternyata menarik banget, guys. Mulai dari tema, pembicara, hingga seminarnya sendiri. Wajar aja, seminar yang diadakan di Auditorium Kampus Anggrek-Universitas Bina Nusantara, Jakarta, ini dipenuhi sama 600-an mahasiswa. Wuih...!

Sesuai dengan temanya, seminar ini menitikberatkan ”wawancara dalam bahasa Inggris” (English interview) dalam rangka menjejaki karier internasional. Karena merupakan lingua franca yang mendunia, bahasa Inggris penguasaannya menjadi esensial sekali.

Liat aja, dari usia dini anak-anak udah diajarin bahasa yang satu ini. Sampai kuliah pun, tetep aja ada mata kuliah bahasa Inggris! Namun, apalah artinya fasih berbahasa Inggris kalo nggak bisa mengaplikasikannya! Apalagi dalam rangka menapaki karier internasional. Karier internasional nggak selalu berarti bekerja di luar negeri lho, tetapi bisa juga bekerja pada perusahaan multinasional atau perusahaan asing yang tersebar di Indonesia.

Hemm.., tentunya kefasihan berbahasa Inggris dalam bentuk teori yang kita dapatkan kudu bisa memfasilitasi kita mendapatkan pekerjaan ya! Langkah pertama, tentunya saat wawancara (berbahasa Inggris tentu)!

”Sering banget pelamar sibuk memerhatikan grammar (kaidah dalam bahasa Inggris—Red). Padahal kami juga nggak punya cukup waktu untuk memerhatikan apakah grammar dia salah atau benar!” ungkap Emeralda Zoelkarnain sambil tertawa.

Manager Strategic Resourcing Sampoerna-Philip Morris Indonesia itu kemudian menambahkan bahwa lebih penting untuk berbicara secara jelas dan runut. ”Jawablah pertanyaan dengan simpel. Keep it concise,” katanya. Prinsip ini penting banget, apalagi di saat kita kehilangan kosakata yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu. ”Answer directly. Usahakan untuk menjawabnya tetap dalam bahasa Inggris,” pesan Emeralda lag
Kenalkan Bahasa Lewat Cerita

BANYAK cara dilakukan orangtua untuk menyiapkan anaknya agar bisa bersaing di era globalisasi ini. Salah satunya dengan mengajari bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, sejak usia kanak-kanak. Cara yang lazim dilakukan adalah memasukkan sang anak ke lembaga kursus.

Masalahnya, di Indonesia yang bahasa resminya bukan bahasa Inggris tentu perlu usaha keras agar anak bisa ber-cas-cis-cus dengan bahasa asing itu. Sementara mengikuti kursus juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bisakah mengajari anak berbahasa asing dengan cara yang lebih hemat? Tentu bisa, terutama jika dilakukan sejak usia dini.

Orangtua tidak harus keluar uang banyak asalkan mau meluangkan waktu untuk membacakan cerita bagi anak. Tentunya cerita dalam bahasa asing seperti bahasa Inggris. Hasilnya tak kalah dahsyat. Anak akan merekam kosa kata bahasa asing itu meski dia belum paham benar.

”Ketika bayi mungkin waktunya cukup 3 menit, tapi semakin besar si anak, bisa ditambah menjadi sedikitnya 20 menit setiap hari untuk membacakan cerita. Bisa dilihat efeknya dahsyat,” kata pendiri komunitas Reading Bugs, Roosie Setiawan, dalam talkshow ‘Melatih Kemampuan Anak dalam Menyimak Melalui Cerita’ di Auditorium Museum Bank Mandiri, pekan lalu.

Dijelaskan, orangtua bisa mengenalkan bahasa Inggris lewat cerita. Ketika orangtua membacakan cerita, otak bayi dan anak balita seperti spons yang menyerap seluruh informasi. Termasuk ketika orangtua ingin ‘memasukkan’ kosa kata bahasa Inggris.

”Apa yang terjadi ketika membacakan cerita bukan hanya bacaan saja (yang ditangkap anak) tapi juga kedekatan orangtua. Juga memberi stimulus otak anak dengan cara yang menyenangkan. Secara alami manusia senang melakukan hal yang menyenangkan,” ujar Roosie.

Konsisten
Ketika cerita itu mengalir dari mulut orangtuanya, kosa kata baru pun terserap oleh anak. Setelah cukup kosa kata, mulai ada ketrampilan bicara, kemudian maju lagi dengan kemampuan membaca, dilanjutkan kemampuan menulis.

”Otak yang berisi sel yang mencapai triliunan membuat kemampuannya begitu dahsyat. Jadi memberikan bacaan dua bahasa tidak akan membuat otak anak penuh,” ujarnya. Anak pun akan lebih mudah mempelajari bahasa Inggris, karena kata-kata yang diajarkan seolah-olah begitu familiar dan lebih mudah dimengerti.

Biar bagaimanapun bahasa Inggris bukanlah bahasa ‘ibu’ atau bahasa yang dipakai sehari-hari. Bahasa Indonesia tetaplah bahasa yang sering didengar anak sehari-hari. Terlebih, tidak sedikit orangtua yang harus bekerja dan anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuh atau pembantu yang notabene tidak bisa berbahasa Inggris.

Namun, orangtua tidak perlu kecil hati. Asal konsisten, anak tidak akan bingung menyerap dua bahasa bahkan lebih. ”Terpenting harus konsisten. Orangtuanya — bisa ayah atau ibu— konsisten membacakan cerita dengan bahasa Inggris, sedangkan dengan pengasuh berbahasa Indonesia,” kata Roosie. (Lilis Setyaningsih)

Sudah Bacakan Dongeng untuk Anak?

SIAPA yang tidak ingin punya anak cerdas, penuh pengertian, baik hati, dan penuh cinta? Kalau Anda menginginkan anak seperti itu, biasakan mendongengkan cerita kepadanya sejak dini, bahkan sejak anak dalam kandungan. Anak yang masih polos dan suci akan dengan mudah menyerap apa pun informasi yang kita berikan, termasuk pesan yang disampaikan melalui dongeng dan gambar.

Miyako Matsumoto, pembina play group di Sumida District Tokyo menjelaskan, melalui buku dongeng bergambar yang menarik, bayi akan tertarik melihat gambar yang ditunjukkan orangtuanya. Buku bergambar bukan hanya membantu dalam perkembangan bahasa anak, tetapi yang paling penting adalah memberi kesempatan berbagi waktu dan perasaan (perkembangan sosial) dengan orangtua. Bukan hanya itu, mendongeng untuk anak juga memberikan ketenangan hati, menumbuhkan serta mengembangkan perasaan cinta anak kepada buku.
”Untuk anak di bawah 3 tahun, orangtua yang menyesuaikan diri kepada mereka. Buku yang dianggap menarik bisa minta dibacakan berulang kali dan akan dihafal oleh anak-anak,” ujar Matsumoto saat menjadi pembicara dalam seminar sehari ‘Anak, Buku, dan Dunia Dongeng’ yang diadakan oleh Japan Foundation Jakarta, Selasa (3/3).
Kadang-kadang, kata Matsumoto, walaupun belum bisa membaca, anak kelihatan asyik ‘membaca’ buku sendiri, bahkan mengubah kalimat dalam buku, karena sudah memiliki kemampuan kreatif. Orangtua jangan melarang atau mengoreksi imajinasi anak tersebut.
Ia juga menambahkan, bagi anak yang sudah bisa membaca sekalipun, tetap ada perbedaan kenikmatan antara dibacakan dan membaca dongeng sendiri. Jadi sebaiknya orangtua tetap punya waktu untuk mendongengi anak, sekalipun si anak sudah beranjak besar.
Menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, membacakan dongeng untuk anak usia balita atau untuk anak usia SD, SMP, bahkan SMA sekalipun, tetaplah sama. Perbedaannya hanya pada materi ceritanya.
”Tetap dikaitkan dengan hal yang menyenangkan, seperti dengan warna-warni atau games. Misalnya dongeng dengan sejarah penangkapan Pangeran Diponegoro. Intinya mengaktifkan otak kanan sehingga akan lebih mudah ingat melalui gambar, syair, atau warna-warni,” kata pria yang akrab dipanggil Kak Seto tersebut.
Dikatakan, semakin bertambah usia anak, tulisan dalam buku akan semakin dominan menarik perhatiannya. Sementara semakin dini usia anak, gambarlah yang lebih dominan. ”Buku untuk bayi bisa terbuat dari kain atau bahan yang tidak mudah sobek. Tapi kalaupun pada akhirnya buku tersebut sobek, ya tidak perlu dimarahi, karena itu merupakan tahap pengenalan bayi terhadap buku,” kata Kak Seto lagi.
Buku bergambar
Mengapa perlu memberikan buku bergambar alias buku cerita yang dominan gambarnya, kepada anak sejak dini? Yoshimi Hori, pendiri Jakarta Japan Network (J2net), mengatakan, manusia memiliki hal-hal yang harus dipelajari pada setiap usia pertumbuhannya, di mana hanya pada saat itulah hal tersebut bisa didapat.
Dunia imajinasi yang didapat dari cerita atau dongeng melalui buku bergambar dapat tumbuh dari usia balita sampai usia 8 tahun. Oleh karena itu penting sekali bagi anak balita untuk memiliki ruang (dalam hati) imajinasi. Pengalaman tersebut akan terus tersimpan di dalam hati seiring dengan pertumbuhannya, tetapi akan sulit didapat setelah menjadi dewasa. Kelak dalam pertumbuhannya, anak akan dapat membedakan dunia nyata dan dunia imajinasi.
Hori juga menyatakan, penting bagi orangtua untuk memisahkan waktu membaca buku dari kegiatan belajar. Pilihlah waktu yang tepat agar Anda bersama anak Anda bisa menikmati ceritanya dengan baik. ”Harus memberikan waktu (khusus) untuk dongeng dan belajar. Nikmati dulu untuk menikmati cerita buku tersebut. Karena anak akan kehilangan selera jika tiba-tiba di tengah cerita Anda menyelipkan pertanyaan tentang angka,” katanya.
Wanita Jepang yang sudah tinggal di Indonesia sejak tahun 1997 mengikuti suaminya yang berdinas di Indonesia ini mengatakan, buku bergambar adalah alat untuk menyampaikan sesuatu yang penting dan memiliki nilai. ”Dulu banyak keluarga yang masih tinggal dengan kakek dan nenek. Dari merekalah anak mendengar cerita secara lisan mengenai pengetahuan, budaya, adat, atau kondisi alam. Namun sekarang ini sudah jarang, sehingga buku dapat menggantikan peran tersebut,” papar Hiro.
Kalimat-kalimat pada buku bergambar memang dibuat khusus untuk memudahkan para orangtua atau orang yang sering membacakan buku untuk anak. Sambil melihat gambar yang ada di buku, anak bisa mendengarkan cerita yang dibacakan oleh orang yang disayanginya dengan rasa gembira. Oleh karena cerita itu dibacakan oleh orang yang mereka sayangi dan percaya, mereka dapat mengikutinya dengan tenang, walaupun isi dari cerita itu menyeramkan atau mengejutkan, atau ada adegan yang seru dan membuat rasa penasaran. (lis)
Cireundeu, Warta Kota
Sebanyak 100 tim hari Se­la­sa (31/3) ini akan menyemprot­kan air di kawasan hilir Situ Gin­tung untuk membersihkan lumpur yang terbawa air bah ketika tanggul Situ Gintung je­bol Jumat (27/3) pagi. Dengan penyemprotan, diharapkan kor­ban yang tertimbun lumpur dapat ditemukan.
Kepala Pusat Krisis dan Ben­cana Departemen Kesehatan, Rus­tam Pakaya, mengatakan pe­nyem­protan akan dilakukan mu­lai pukul 07.00. ”Setiap tim terdiri atas tiga personel se­hingga ada 300 orang menyemprot lo­ka­si hingga satu kilometer dari tanggul,” katanya, Se­nin (30/3).
Menurut Rustam, pe­nyem­prot­­an merupakan teknik mem­­ber­sih­kan lumpur dan sam­pah yang menumpuk di lo­kasi bencana. Peng­­gelontoran ini bertuju­an mencegah merebaknya pe­nya­kit-penyakit yang biasa muncul pas­cabanjir. Di­ha­rapkan, pe­nyem­protan juga me­r­ingankan tugas tim SAR da­lam mencari kor­ban.
Kemarin atau hari keempat tra­­gedi Situ Gintung, pencarian kor­ban dilakukan tim SAR mau­pun ma­syarakat. Namun, hingga Se­­nin petang, tak ditemukan satu pun korban. De­ngan de­mi­kian, jum­lah korban te­was pada benca­na Situ Gin­tung sama de­ngan da­ta yang di­ke­luarkan se­hari se­be­lum­nya.
Pusat Krisis dan Bencana Dep­­kes mencatat korban tewas tragedi Situ Gintung mencapai 99 jiwa se­­dangkan korban hi­lang tinggal lima. Namun, Pos­ko Situ Gintung mencatat korban tewas mencapai 99 orang, kor­ban luka 190, dan kor­ban selamat mencapai 139 orang. Hing­ga semalam, belum di­­per­oleh klarifikasi atas perbedaan angka korban jiwa ini.
Sejumlah sukarelawan, ke­ma­­rin, membersihkan lumpur di pe­la­taran maupun kantor, ruang ku­­liah, dan perpusta­ka­an Uni­ver­­sitas Muhammadiyah Ja­karta (UMJ). Sejumlah pe­ra­bot kampus se­perti meja, kur­si, dan komputer ter­kena lum­pur yang dibawa air bah pada mu­sibah Jumat pagi pe­kan lalu.
Pihak UMJ mengizinkan kam­­pus­nya digunakan sebagai lokasi pengungsian selama dua minggu terhitung sejak jebolnya tanggul Situ Gintung atau Jumat lalu. Se­­te­­lah itu, kampus harus di­ko­song­kan dari pengungsi karena akan digunakan untuk per­ku­liah­­an.
Rektor UMJ Dr Hj Masyitoh MAg minta Pemkot Tangerang Se­­­latan mengambil alih pe­nang­an­an para korban. Di kam­pus UMJ, pa­ra pengungsi di­tampung di tiga ge­dung fa­kultas an­tara lain Fa­kul­tas Ke­dok­teran dan Fakultas Hu­kum.
Menurut Masyitoh, akibat je­bol­nya tanggul Situ Gintung pi­hak UMJ menderita kerugian se­­nilai Rp 10 miliar, termasuk be­­ru­pa kerusakan bangunan. Se­­ba­nyak lima gedung menga­la­mi ru­sak berat di antaranya ge­dung Fa­­kultas Pertanian, la­boratorium, sarana pendidikan anak usia dini dan taman ka­nak-kanak, serta ge­dung Unit Bis­nis Center yang ter­diri atas laboratorium dan ko­perasi.
Menurut Masyitoh, per­pus­ta­ka­an UMJ maupun ko­lek­si­nya juga rusak parah. Selain itu data pa­ra mahasiswa juga hi­lang atau­­pun rusak. Se­men­tara tiga mo­bil kampus hilang sedangkan delapan kendaraan lainnya rusak pa­rah, ter­ma­suk dua bus kampus. ”Saya kira nggak bisa lagi diperbaiki,” katanya di kampus UMJ, ke­marin. Masyitoh berharap pe­me­­rintah membantu pemulih­an kampus UMJ.
Para petugas pemadam ke­ba­­­karan, kemarin, menyem­prot­­kan air ke wilayah paling de­kat de­ngan tanggul yang merupakan wilayah yang mengalami ke­ru­sak­­an terparah. Petugas juga meng­guna­kan alat-alat be­rat untuk me­nyingkirkan re­run­tuh­an bangun­an maupun sampah.
Dengan dibersihkannya lo­ka­si tersebut, warga kesulitan menemukan lokasi rumahnya. Pa­­­da­hal di lokasi itu tadinya ada 319 rumah, termasuk mi­lik Mulyadi, yang mengaku ting­gal di ka­wa­san itu sejak 1967. Mulyadi juga mengakui ta­nahnya belum ber­ser­tifikat. ”Warga di sini hanya me­miliki gi­rik,” ujarnya. Mulyadi ber­ha­rap pemerintah memberi ke­mu­dahan bagi korban Situ Gin­­tung untuk mendapatkan ru­mah.
Hingga kemarin, puluhan orang dari luar Cireundeu da­tang ke lo­kasi bencana Situ Gin­­tung se­ka­dar untuk me­muas­­kan rasa ingin tahunya. (yos/sab)
Pentingnya Bermain sambil Belajar
> Dari Memandikan sampai Menidurkan Anak

Cerdas juga berarti dapat mengembangkan kemampuan, potensi serta kapasitas yang ada dalam diri sebaik mungkin. Dengan demikian, kelak anak akan tumbuh menjadi anak yang sehat, mandiri, pintar, dan gembira.
”Setiap orangtua harus betul-betul mengenal anaknya dengan sangat baik, karena setiap anak sama halnya dengan setiap individu, adalah unik. Tidak ada satu pun pribadi yang sama dengan pribadi lainnya. Demikian juga dengan anak-anak,” kata ahli pendidikan anak usia dini Lely Tobing dalam acara ’Huggies Creative Bond Play Series’ di Jakarta Selatan, belum lama ini.
Menurut Lely, orangtua yang mengenal anaknya dengan sangat baik tentu mengetahui kebutuhan si anak, terutama tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan anaknya. Faktor-faktor tersebut di antaranya rangsangan atau stimulasi sejak dini, kualitas asupan gizi, dan pola pengasuhan yang tepat serta kasih sayang terhadap anak.
”Stimulasi bisa berupa bermain dengan anak. Stimulasi itu penting diberikan sejak dini, karena setiap tahapan perkembangan akan mempengaruhi kualitas perkembangan anak serta kesiapannya untuk tahapan perkembangan selanjutnya. Jika anak menerima kulitas tahapan perkembangan dengan baik maka ia akan lebih mandiri dan gembira dengan dirinya,” kata Lely.
Dikatakan pula, bermain yang dimaksud adalah bermain sambil belajar. Selain dapat mengembangkan tingkat kreativitas anak berusia di bawah tiga tahun (batita), bermain sambil belajar juga dapat menciptakan kedekatan antara ibu dan anak, merangsang berbagai perkembangan anak, serta menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan.
Aktivitas bermain sambil belajar dapat pula melatih keterampilan motorik kasar yang juga mempengaruhi otak anak. Dengan bergerak, komunikasi antarsaraf akan lebih lancar sehingga dapat membantu anak agar siap berpartisipasi dan memiliki performa lebih baik pada usia sekolah.
Ada lima aktivitas bermain sambil belajar yang perlu diketahui para ibu, terutama ibu-ibu yang bekerja dan mempunyai keterbatasan waktu. Kelima aktivitas itu adalah bermain (playing), saat memberi makan (feeding), memandikan (bathing), menidurkan (sleeping), dan bepergian (traveling).
Ibu yang sibuk tapi tetap ingin meluangkan waktu untuk bermain bersama anaknya dapat mencontoh aktivitas bermain sambil belajar ini. Waktunya sekitar 30 menit. Meski begitu ibu dan anak dapat enjoy melakukannya.

Minggu, 12 April 2009

SEMARANG - Dalam menyampaikan materi pembelajaran, para guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) masih menerapkan metode klasik. Padahal itu tidak sesuai jika diterapkan pada pembelajaran untuk anak usia dini.

"Jika metodenya saja tidak tepat bagaimana proses pembelajaran bisa berhasil,'' kata ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Jawa Tengah, Ir Nila Kusumaningtyas, Senin (29/1).

Sebelumnya Direktur PAUD Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dr Gutama menjelaskan, sekitar 60% dari 55.000 lembaga PAUD nonformal di Indonesia belum memahami metode pembelajaran yang seharusnya diterapkan. Sisanya belum matang dalam pemahaman metode.

Melalui metode klasik, Nila menuturkan, proses pembelajaran masih berpusat pada guru. Sementara anak hanya meniru terhadap apa yang dilakukan guru. "Dengan metode itu, pemikiran anak susah untuk berkembang karena terbiasa meniru,'' jelas dia.

Sistem belajar sambil bermain, ungkap dia, merupakan metode yang paling tepat diterapkan pada anak usia dini. Dalam penerapannya pun disesuaikan dengan perkembangan dan karakter masing-masing anak.

Guru hanya memberi gagasan, sedangkan anak mengembangkan sendiri sesuai dengan pola pikirnya. "Cara yang diterapkan untuk masing-masing anak akan berbeda antara satu dengan yang lain,'' jelas dia.

Dengan diterapkannya sistem klasik, menurut dia, menunjukkan kurangnya kreatifitas guru. Di samping itu juga karena para guru PAUD berpatokan pada standar yang ditetapkan SD.

"Saat ini seleksi masuk SD minimal anak harus sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Padahal, seharusnya untuk anak usia dini belum saatnya diajarkan calistung,'' tutur dia. (H31-62)

SAMPAI saat ini, masih banyak masyarakat yang belum begitu paham tentang kelembagaan pendidikan anak usia dini (PAUD). Karena itu, pemahaman tentang kelembagaan tersebut harus terus disosialisasikan supaya masyarakat tidak keliru menafsirkannya.

Hal itu diungkapkan R Taufik NM MPd, Kabid Humas Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Jateng.

Menurut lelaki asli Solo itu, akhir-akhir ini ada perkembangan yang kurang baik. Banyak yang mencoba menyelenggarakan PAUD di tempat-tempat mewah, tapi mereka hanya menyewa atau kontrak. Hal seperti itu, menurut Taufik, sama saja tidak memikirkan kelangsungan pendidikan anak dengan baik.

”Lebih baik digelar di garasi, teras, atau di halaman rumah, tapi milik sendiri. Kalau di rumah sendiri, kan kemungkinan pindah sangat kecil,” ungkapnya.
Dengan demikian, lanjut ayah dua putra itu, keberlangsungan proses belajar anak tidak terkendala oleh masalah perpindahan tempat.

Taufik yang juga dosen di sebuah PTS di Surakarta itu sangat menyayangkan bila hal seperti itu terjadi. Sebab, anak-anak akan menjadi korban.

Tiga Parameter

Paling tidak, menurutnya, ada tiga parameter yang harus dipahami masyarakat tentang konsep kelembagaan PAUD. Pertama, lembaga merupakan investasi bagi anak yang pelaksanaannya harus dikombinasikan dengan kemampuan. ìIni titik beratnya. Lembaga harus didirikan dengan semangat itu.

Semangat memberikan layanan pendidikan kepada anak usia dini,î tegasnya.
Kedua, sistem pembelajarannya harus disesuaikan dengan ketentuan yang ditetapkan Dirjen PAUD yang telah mengadopsi sistem beyond centre and circle time (BCCT).

Parameter ketiga, manajemen lembaga secara sehat. ”Artinya, jangan sampai terjadi kerancuan lantaran tidak ada pemisahan yang jelas antara penyelenggara dan pengelola. Inilah yang selalu kami sosialisasikan. Sebab, saat ini masih banyak penyelenggara yang merangkap sebagai pengelola PAUD. Akibatnya, manajemen lembaga tidak berjalan dengan baik dan sehat.”

Pria yang hobi menulis dan baca buku itu juga mengingatkan, apa yang dia sampaikan itu semua merupakan jenis pendidikan di jalur non-formal.
Menurutnya, hal itu perlu dia sampaikan lantaran masih banyak orang yang belum bias membedakan mana PAUD jalur formal dan mana yang non-formal.

Lebih lengkapnya, PAUD di jalur pendidikan nor-formal itu ada tiga jenis. Yaitu, Kelompok Bermain (KB) atau Play Group, lalu Tempat Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS).

”Adapun Pos PAUD itu termasuk di dalam SPS yang penyelenggaraannya dipadukan dengan posyandu. (Kunadi Ahmad-45)
SELAMA ini, kebanyakan pengelola atau guru lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) takut atau belum siap diakreditasi. Padahal, itu tak semestinya terjadi.
Galuh Murya Widawati, salah satu asesor PAUD di Jawa Tengah, menuturkan akreditasi membuat asesor bisa mengetahui semua kekurangan. Penemuan itu bisa dija-dikan pertimbangan untuk kemajuan lembaga yang diakreditasi.

”Justru akreditasi membuat berbagai saran dan masukan untuk kemajuan lembaga bisa terus disampaikan. Akhirnya lembaga yang diakreditasi makin baik dalam waktu relatif singkat karena perkembangannya selalu dipantau. Karena itu tak perlu takut diakreditasi,” ujar dia.

Wakil Ketua Himpunan Pendidik dan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Jawa Tengah yang hobi menari itu menyatakan akreditasi bukan untuk mencari kelemahan dan kekurangan, lalu menghukum. Namun memantau agar kualitas lembaga PAUD terjaga. Melalui akreditasi, paling tidak delapan poin standar yang ditetapkan Badan Akreditasi Nasional-Pendidikan Nonformal (BAN-PNF) diupayakan bisa terpenuhi.

Dari kedelapan standar itu, setidaknya poin prasarana dan sarana, isi, proses pendidikan, pengelolaan lembaga, dan kemampuan pendidik penting terpenuhi lebih dahulu. Namun bukan berarti poin lain tidak penting. Sebab, kedelapan unsur itu berujung pada kompetensi lulusan.

Dia mengemukakan poin yang hingga kini paling sering tak memenuhi standar adalah pendidik. Masih banyak pendidik lembaga PAUD belum memenuhi standar.
”Boleh saja lulusan SMP atau SMA menjadi pendidik PAUD. Namun harus pernah mendapat pendidikan tentang PAUD, misalnya lewat kursus,” katanya.

Untuk menjembatani hal itu, dia bekerja sama dengan UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Surakarta mendirikan lembaga kursus pendidik PAUD, yakni Pusat Percontohan PAUD.

Prinsip Dasar

Master of Trainer PAUD itu juga meminta pengelola selalu memegang tiga prinsip dasar pengelolaan PAUD. Ketiga prinsip itu lebih dikenal dengan sebutan 3M, yakni murah, mudah, dan mutu.

”Pengelola PAUD harus selalu mengedepankan ketiga prinsip itu. Sebisa mungkin upayakan pendidikan anak usia dini dengan biaya murah sehingga terjangkau masyarakat dari berbagai lapisan. Selain itu, lokasi pun mudah diakses,” katanya.
Namun meski mudah dan murah, dia meminta mutu tetap harus dijaga. ”Menu belajar mesti sesuai bagi anak usia dini yang telah ditentukan Dirjen PAUD,î tegas dia.

Prinsipnya, ujar ibu empat putra satu putri yang tinggal di Jalan Jenggolo Utara 2 Praon, Nusukan, Surakarta itu, akreditasi lembaga untuk menjaga dan menjamin kualitas lembaga. ”Jadi, kenapa takut diakreditasi?” (Kunadi Ahmad-53)

SIAPA pun tak akan menyangkal ungkapan yang menyebutkan masa depan suatu bangsa terletak di tangan generasi mudanya. Artinya, kemajuan atau kemunduran suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas calon penerus generasi sekarang.

Calon penerus tersebut mencakup generasi muda yang terdiri atas para anak muda, remaja, serta anak-anak termasuk bayi.

Jika generasi mudanya berkualitas rendah atau lemah secara fisik dan mental, bisa dipastikan suatu bangsa atau negara akan terseok-seok. Mereka akan kepontal-pontal ketika harus berlomba melawan negara atau bangsa-bangsa lain di era persaingan yang kian keras. Persaingan itu terjadi pada semua sektor kehidupan. Mulai ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, hingga olahraga.

Dalam konteks mempersiapkan generasi penerus berkualitas itulah pendidikan anak usia dini (PAUD) memegang peranan amat penting.

Di negara lain pendidikan anak usia dini telah mendapat perhatian sejak lama. Di Singapura dan Korea Selatan, misalnya, hampir semua anak berusia dini atau 0-6 tahun telah memperoleh pendidikan.

Di Indonesia pendidikan anak usia dini baru beberapa tahun terakhir ini menjadi isu nasional dan mulai mendapatkan perhatian pemerintah. Tak mengherankan jika dari sekitar 28 juta anak usia 0-6 tahun baru 73% atau sekitar 20,4 juta belum mengenyam pendidikan usia dini.

Sisanya atau sekitar 7,5 juta anak sudah memperoleh pendidikan usia dini, antara lain berupa membaca dan berhitung.

Sebagian kecil di antaranya ditangani di lembaga formal, yakni taman kanak-kanak (TK), kelompok bermain (play group), dan sederajat. Sebagian yang lain memperoleh pendidikan usia dini di lembaga-lembaga nonformal, yakni tempat penitipan anak (TPA), bina keluarga balita, dan sejenisnya.

Tahun ini Departemen Pendidikan Nasional menargetkan peningkatan jumlah anak yang memperoleh pendidikan usia dini sebesar 12,5% atau menjadi 11 juta anak dan 2009 menjadi 17,3 juta anak.

Usia dini yang lazim diartikan pada kisaran 0-6 tahun memang merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan pengembangan intelegensi seorang anak. Sudah banyak penelitian yang membuktikan pada usia tersebut anak-anak memiliki tingkat intelegensi atau kecerdasan paling optimal.

Tujuan utama pendidikan usia dini adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak sejak awal yang meliputi aspek fisik, psikis, dan sosial secara menyeluruh. Dengan begitu anak diharapkan lebih siap untuk belajar lebih lanjut. Bukan hanya belajar secara akademik di sekolah, melainkan juga sosial, emosional, dan moral di semua lingkungan.

Pengesahan RUU Sistem Pendidikan Nasional menjadi UU pada 11 Juni 2003 memberi peluang bagi perkembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Melalui UU tersebut keberadaan dan program-program pendidikan anak usia dini lebih memiliki kepastian hukum dan lebih jelas kedudukannya.

Semua bentuk pendidikan usia dini dipayungi, baik TK, raudhatul athfal, kelompok bermain (play group), TPA, pendidikan keluarga dan lingkungan, serta bentuk-bentuk lain yang sederajat.

UU tersebut juga mengakui kesetaraan peranan ketiga jalur pendidikan, yakni formal, nonformal, dan informal dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini.

Pengakuan terhadap peranan jalur formal dan nonformal mungkin tidak terlalu mengherankan, tetapi untuk jalur informal atau pendidikan dalam keluarga dan lingkungan merupakan suatu kemajuan. Untuk memperluas peluang anak-anak usia dini dalam memperoleh pendidikan, jalur informal sangat memberikan harapan.

Namun walau telah memiliki payung hukum sehingga kedudukannya lebih pasti dan jelas, dalam pelaksanaannya di lapangan pendidikan anak usia dini menemui banyak kendala.

Pertama, kesadaran masyarakat mengenai betapa strategis pendidikan anak usia dini hingga sekarang belum menggembirakan.

Kurang Menyentuh

Di antaranya akibat sosialisasi kurang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Baru sebagian kecil yang memiliki kesadaran cukup baik untuk memberi pendidikan anaknya sejak dini. Itu pun masih banyak terjadi salah tafsir. Pendidikan anak usia dini seolah-olah hanya bertumpu pada TK, kelompok bermain, dan sejenisnya yang bersifat formal.

Keterbatasan sarana yang terjangkau mendorong swasta berlomba-lomba "membisniskan" jenis pendidikan tersebut dengan tawaran fasilitas yang wah. Mulai penerapan bilingual atau dwibahasa, laboratorium komputer, gedung sekolah megah, guru-guru yang kompeten, hingga berbagai pendukungnya.

Orang tua harus mengeluarkan uang jutaan rupiah kalau ingin memasukkan anaknya ke TK atau kelompok bermain yang termasuk favorit. Lebih salah-kaprah lagi, banyak yang merasa kurang bergengsi dan percaya diri jika tak memasukkan anaknya ke TK atau kelompok bermain favorit.

Kedua, faktor geografis menyebabkan layanan pendidikan anak usia dini formal dan nonformal tidak mampu menjangkau seluruh sasaran. Banyak anak-anak usia dini yang tinggal di kepulauan terpencil dan daerah-daerah pelosok yang tak tersentuh oleh layanan transportasi memadai.

Satu-satunya cara mengatasi persoalan itu adalah mengembangkan pendidikan anak usia dini yang bersifat informal, yakni berbasis keluarga dan masyarakat. Namun untuk itu memerlukan orang tua atau orang dewasa yang memiliki semangat belajar agar mampu mendidik anak-anak di keluarga dan lingkungannya.

Ketiga, jumlah tenaga terdidik yang diharapkan menjadi agen-agen pengembangan pendidikan anak usia dini masih terbatas. Selain itu, sebagian besar sumber daya manusianya berkualitas rendah sehingga belum bisa diharapkan banyak untuk mengembangkan sekaligus menyosialisasikan pendidikan tersebut.

Penyebabnya antara lain tidak banyak perguruan tinggi yang memiliki perhatian serius terhadap penyediaan tenaga pendidikan anak usia dini.

Keempat, faktor ekonomi sebagian masyarakat kita yang tergolong memprihatinkan juga menjadi salah satu kendala menggalakkan pendidikan anak usia dini.

Perhatian masyarakat terfokus pada bagaimana memenuhi kebutuhan pokok, terutama pangan, sehingga pendidikan anak-anak agak terabaikan.

Untuk mengatasi beberapa kendala yang menghambat layanan pendidikan kepada anak-anak usia dini tersebut bisa ditempuh beberapa langkah.

Terutama memperluas jangkauan layanan melalui pendidikan nonformal dan informal yang berbasis keluarga serta lingkungan. Perlu disosialisasikan bahwa pendidikan anak usia dini bukan hanya TK atau taman bermain formal, melainkan juga TPA, bina keluarga balita, posyandu, serta keluarga sendiri.

Organisasi-organisasi kemasyarakatan perlu digerakkan agar pendidikan tersebut menyentuh anak-anak dari kelompok masyarakat paling bawah serta anak-anak di daerah-daerah terpencil.

Departemen Pendidikan Nasional telah menjalin kerja sama dengan PKK, Muslimat NU, Aisyiah, dan Kowani untuk meningkatkan jumlah anak usia dini yang memperoleh pendidikan.

Data Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini menyebutkan di Indonesia saat ini ada 9.668 pos pendidikan anak usia dini yang terdiri atas 635 TPA, 7.784 kelompok bermain, serta 1.249 pos lain berupa pos pelayanan terpadu (posyandu), bina keluarga balita, dan berbagai organisasi kewanitaan.

Pendidikan anak usia dini memerlukan penanganan secara multidisipliner yang melibatkan antara lain ahli gizi, kesehatan, pendidikan, psikologi, dan sosiologi.

Tentu agar semua anak usia dini terjangkau membutuhkan dana besar. Departemen Pendidikan Nasional telah mengalokasikan dana Rp 109 miliar yang terbagi dua, yaitu Rp 17,1 miliar untuk dikelola pusat dan Rp 92,6 miliar dikelola daerah.

Jumlah dana itu masih belum mencukupi atau hanya bersifat stimulans sehingga penyelenggaraan secara mandiri atau swadaya oleh masyarakat sangat diharapkan.

Perguruan tinggi yang mengembangkan ilmu kependidikan diminta pula perannya dalam menyiapkan tenaga-tenaga untuk menangani anak-anak usia dini.

Sekali lagi, pendidikan anak usia dini sebagai peletak dasar dalam upaya mencetak generasi berkualitas harus ditangani secara serius, bahkan memperoleh prioritas. Seluruh masyarakat ikut memikul tanggung jawab, bukan hanya pemerintah.(11)

- Bambang Tri Subeno, wartawan Suara Merdeka di Semarang

Tanya: Bapak Gubernur, saat ini sedang ramai-ramainya tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sejauh manakah Pemprov Jateng dalam mendukung program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)? Nuwun.

Isma

Pucang Gading - Kota Semarang

Jawab:

Saudari Isma, upaya pembangunan kualitas SDM menupakan proses jangka panjang yang harus dimulai sejak dini, sejak janin masih dalam kandungan. Ini karena usia dini merupakan masa emas sekaligus masa krirtis yang keberhasilannya sangat menentukan kualitas di masa dewasanya.

Kelalaian penanganan pada asia dini, tidak dapat ditebus pada masa berikutnya. Oleh karena itulah pemerintah sangat komit dalam pergembangan PAUD sebagaimana tertuang secara tegas dalaam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 1 butir 14 tentang Pengertian PAUD disebutkan, bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. PAUD memperhatikan aspek perrtumbuhan/fisik termasuk gizi, kesehatan, dll. Di samping itu juga aspek perkembangan/nonfisik, yaitu semua potensi kecerdasan emosi dan spiritual. Ini artinya PAUD harus bersifat holistik dan terintegrasi. Penanganan anak secara menyeluruh dan terpadu, tidak hanya di Jawa Tengah, melainkan telah menjadi komitmen internasional dan nasional. Secara internasional, komitmen tersebut diwujudkan dengan memperluas dan meningkatkan secara menyeluruh perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung (Butir 1 Deklarasi Dakar, Senegal Th 2000). Secara nasional sebagaimana dalam Pasal 28B ayat (2) UUD 1945 yaitu setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

PAUD juga tidak sekedar menyiapkan anak masuk SD (dengan calistung) melainkan untuk menyiapkan agar anak dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut yang memerlukan rasa percaya diri, kejujuran, keberanian, kerja keras, disiplin, kreativitas, dll. Ini karena sebuah penelitian menunjukkan, bahwa anak dapat belajar dengan baik di SD apabila telah dipersiapkan terlebih dahulu dengan mengikuti PAUD, seperti di kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), Kelompok Bermain (KB), dll.

Menyikapi semua itu, Pemprov Jateng melalui BKKBN Provinsi Jawa Tengah menetapkan kebijakan integrasi BKB-Pos PAUD. Grand strategy Program KB Nasional di antaranya yaitu meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui pelayanan KB, dan seluruh keluarga yang memiliki anak balita menjadi anggota aktif BKB. Tujuannya memberdayakan orang tua (ayah dan ibu) dan anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang anak balitanya untuk mewujudkan SDM yang berkualitas. Sasarannya adalah orang tua (ayah dan ibu), dan anggota keluarga lain mempunyai anak balita (0-5 tahun) dan usia prasekolah (5-6 tahun) termasuk ibu hamil. Jangkauannya desa/kelurahan serta RW/dusun.

Aplikasinya, penyelenggaraan kegiatan BKB dilaksanakan secara lintas sektor dan lintas program dengan memberikan pelayanan secara terpadu dari berbagai instansi/lembaga masyarakat/sektor swasta. Untuk itulah pelayanan BKB mengacu kepada aspek kesehatan, gizi, psikososial, pendidikan dan memperhatikan perlindungan dan partisipasi anak dalam memenuhi hak-haknya. Dalam pelaksanaannya tetap memperhatikan kondisi dan potensi kelompok, termasuk sasaran program, tenaga pengelola/kader, serta pengaturan waktu tempat pelaksanaan kegiatan integrasi. Khusus untuk program PAUD, sebagai pelaksana teknis dari kegiatan BKB, BKKBN termasuk salah satu stakeholder program PAUD bersama dengan lintas sektor lainnya. Dari aspek kesehatan dan gizi, yaitu BKB-Posyandu. Dari aspek psikososial dan pendidikan yaitu BKB-PAUD. Keterpaduan kegiatan lainnya yaitu BKB-TPA, Kelompok Bermain.

Melalui Dinas Kesejahteraan Sosial Pemprov Jateng juga menetapkan beberapa kebijakan untuk mendukung program PAUD. Salah satunya yaitu melakukan beberapa pelayanan kepada anak balita. Di antaranya dengan pembinaan kepada panti sosial yang memberikan layanan kepada anak balita dengan tujuan meningkatkan profesionalisme pelayanan di panti. Kemudian juga memberikan bantuan operasional berupa Alat Permainan Edukatif (APE) dan sarana prasarana, serta bantuan permakanan untuk peningkatan gizi anak-anak balita. Tidak kalah penting yaitu mengadakan pendidikan dan pelatihan petugas dengan materi bimbingan pembelajaran prasekolah, penggunaan APE, administrasi pelayanan pekerja sosial, metodologi tentang sosialisasi anak, psikologi perkembangan anak. Materi lain yaitu gizi, perawatan kesehatan anak, imunisasi, P3K, pendidikan moral dan mental, serta bimbingan kesejahteraan sosial keluarga. Dengan demikian pelayanan kepada anak balita di Tempat Penitipan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain (KB) dapat dilaksanakan secara profesional.

Beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang merupakan panti sosial milik masyarakat yang menangani anak balita, antara lain Panti Sosial ''Kasih Mesra'' Kabupaten Demak, Yayasan Pemeliharaan Anak Balita (YPAB) Kota Surakarta, Yayasan Pemeliharaan Balita Telantar (YPBT) Kab Klaten. Di samping itu sedang dalam perencanaan adalah Panti Asuhan Anak Balita (PAAB) di Kota Salatiga. Melalui berbagai upaya tersebut, diharapkan anak-anak Indonesia khususnya Jawa Tengah berkualitas.(64)

Jumat, 06 Maret 2009

Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo, Mbah Kromo menyang Solo, oleh-olehe wedhus Jowo, Pak Injit cilolobah, wong mati ora obah, nek obah medeni bocah, nek urip golek-o duit

Riuh tawa dan tepuk tangan ibu-ibu bergemuruh di Balai Desa Gerbosari, Samigaluh, Kulon Progo, ketika menyaksikan Salsabila (3) lantang menyanyikan lagu dolanan anak Sluku-sluku Bathok. Putri kedua Ny Siti Tatiroh (35) ini tampil cantik di atas pentas dengan baju warna merah muda kebanggaannya.

Dalam acara Gebyar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) se-Kecamatan Samigaluh, Rabu (30/4), Salsabila tidak tampil sendiri. Ratusan anak unjuk kebolehan di panggung Balai Desa Gerbosari. Ada yang menyanyi, menggambar, dan menari.

"Sekarang anak saya lebih 'pe-de' (percaya diri), enggak seperti dulu yang amat pemalu," tutur Siti yang tak henti-hentinya mencium gemas pipi Salsabila.

Keberanian Salsabila untuk tampil di muka umum muncul setelah bergabung dengan pos PAUD Fajar Imani di Dusun Kaliduren, Kebonharjo. Di dusun yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kecamatan Samigaluh ini, pos itu sudah hadir sejak empat tahun lalu.

Siti mengaku, awalnya tidak terlalu tertarik untuk mendaftarkan anaknya kelak ke pos PAUD. Ia mengira pos tersebut sama seperti taman bermain biasa, lagi pula sepertinya biaya masuknya mahal. Namun, ternyata ia salah.

"Di pos, anak-anak tidak dipungut biaya apa pun, paling-paling hanya Rp 1.000 untuk satu kali pertemuan tiap minggu. Itu untuk pengganti makanan dan alat-alat bermain," tutur wanita yang menyambi kerja sebagai buruh tani ini.

Selain itu, ia melihat perbedaan antara anak-anak yang belajar di pos PAUD dan yang diasuh sendiri oleh ibunya. Anak-anak lulusan pos tampil lebih ceria, berani, kreatif, mampu bersosialisasi, dan lebih mudah menerima pelajaran di tingkat taman kanak-kanak sebelum ke sekolah dasar.

Tanpa ragu lagi, Siti segera mendaftarkan Salsabila sejak awal tahun ini. Ia boleh berbangga, baru empat bulan bergabung, Salsabila sudah menjelma jadi bintang panggung dalam acara Gebyar PAUD Samigaluh, Rabu kemarin.

Ika Nurhayani dan Puji Astuti, pengajar PAUD Galuh Siwi, Gerbosari, menambahkan, saat ini semakin banyak masyarakat yang sudah merasakan manfaat keberadaan lembaga itu. Sosialisasi manfaat secara getok tular (dari mulut ke mulut) membuat banyak ibu mulai mendaftarkan anak ke pos terdekat.

Menurut Ika, sistem belajar yang diterapkan di pos tersebut mendukung proses peningkatan kecerdasan dan pembentukan kepribadian dalam masa tumbuh-kembang anak di usia 0-6 tahun. "Pada usia ini daya serap anak terhadap berbagai pengetahuan amat tinggi, sehingga apabila diarahkan secara positif, anak akan tampil prima," tuturnya.

Ketua Forum PAUD Samigaluh Jawadi menuturkan, besarnya minat masyarakat juga diperlihatkan dengan banyaknya pos yang muncul. Tahun ini Samigaluh memiliki 22 pos PAUD yang tersebar di tujuh desa, tahun lalu hanya 13.

Di seluruh Kulon Progo, jumlah PAUD sudah mencapai 242 buah. Meskipun demikian, menurut Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kulon Progo Harijana, jumlah PAUD yang tersedia baru bisa melayani 11.482 anak usia dini atau baru sekitar 34,3 persen dari total jumlah anak usia dini di Kulon Progo.

Permintaan masyarakat untuk membentuk PAUD baru pun terus mengalir. "Respons ini cukup menggembirakan. Ini berarti sudah jadi kebutuhan masyarakat," ujar Harijana.

GUNUNG KIDUL, KAMIS — Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD berperan penting dalam penentuan pola pikir anak pada usia emas 0-4 tahun. Namun, PAUD masih cenderung ditelantarkan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Hingga kini, baru separuh dari total 29 juta anak usia dini di Indonesia yang telah terlayani oleh PAUD.

Tahun ini, menurut Direktur PAUD, Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal, Departemen Pendidikan Nasional, Sujarwo Singowidjojo, pemerintah menargetkan pembentukan 16.800 PAUD baru dengan target utama rintisan di 50 kabupaten termasuk Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Tiap kabupaten tersebut, lanjut Sujarwo, akan memperoleh bantuan dana senilai rata-rata Rp 3 miliar untuk pengembangan PAUD. Fasilitasi pemerintah daerah di Indonesia dinilai masih kurang terutama dalam mendukung pendanaan bagi operasional PAUD maupun honor tutor dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Honor tutor dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), misalnya, baru saja naik dari Rp 50.000 menjadi Rp 100.000 per bulan yang diberikan bagi 50.000 tutor dari total 160.000 tutor. "Kami mengimbau tiap bupati untuk menggalakkan program PAUD dengan dukungan APBD," kata Sujarwo ditemui di sela launching PAUD Unggulan di PAUD An Nur, Karangmojo, Kamis (26/2).

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DI Yogyakarta Suwarsih Madya dalam sambutan tertulisnya menyatakan terus berupaya menyosialisasikan PAUD ke seluruh lapisan masyarakat. Total jumlah siswa yang duduk di Taman Pendidikan Anak, Kelompok Bermain, dan Satuan PAUD Sejenis di DIY adalah 64.651 anak dengan 6.805 tutor.

PAUD An Nur didaulat menjadi pusat unggulan PAUD Gunung Kidul dan memperoleh bantuan block grant dari pemerintah pusat senilai Rp 150 juta. Pengurus PAUD An Nur, Alifatun, mengatakan, pendanaan operasional PAUD selama ini mengandalkan bantuan dari donatur serta subsidi silang dari orangtua murid.

Sujarwo menambahkan, kualitas hidup manusia ditentukan pada sejauh mana kualitas pendidikan di usia dini. Kemampuan kognitif justru berkembang pesat pada usia 0-4 tahun. "Di tangan para tutor, perbaikan generasi muda bangsa ini ditentukan," tambahnya.

Bupati Gunung Kidul Suharto mengakui bahwa pembentukan perilaku dan sikap dimulai sejak usia dini. Saat ini, baru sekitar 51 persen anak di Gunung Kidul mengenyam PAUD. Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul berupaya terus meningkatkan kualitas pendidikan dengan pendanaan dari APBD senilai Rp 318 miliar untuk pendidikan.

LEBAK, SABTU - Ratusan anak usia dini mengikuti lomba melukis yang digelar dalam rangkaian memperingati Hari Anak Nasional (HAN) di Kabupaten Lebak, Banten.

Kepala Bidang Pendidikan Nor Formal dan Informal, Dinas Pendidikan, Kabupaten Lebak, Sabtu, mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mendorong anak lebih berkreativitas dan menumbuhkan spiritual bakat dan minat anak.

Oleh karena itu, sejak usia dini perlu didorong jiwa emosional anak lebih mencintai kreativitas, apalagi, anak usia dini masuk kategori usia emas atau golden age.

Menurut dia, peserta kegiatan itu melibatkan Kelompok Bermain (Kober) pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tersebar di 28 kecamatan dengan jumlah 280 anak antara usia 2-5 tahun.

Pembelajaran mereka saat ini sudah menyebar di pelosok-pelosok pedesaan yang dikelola oleh masyarakat setempat.

"Sebagian besar para tenaga pengajar Kober PAUD dengan suka rela tanpa gaji dari pemerintah," katanya.

Dia mengatakan, perkembangan Kober PAUD di Kabupaten Lebak tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Saat ini, kata dia, tercatat sebanyak 67 Kober dengan jumlah 2.027 anak, bahkan sekarang banyak anak petani mengenyam pendidikan anak usia dini.

Dia menjelaskan, kegiatan ini selain melukis juga digelar lomba gerak dan lagu, lompat simpay, menari dan mewarnai.

"Saya kira mereka sangat luar biasa karena sudah tumbuh jiwa kreativitas anak," katanya.

Sementara itu, Ketua Kober PAUD Bina Insani, Rangkasbitung, Nurmanah, mengatakan, pendidikan anak usia dini sangat mempengaruhi jiwa anak hingga dewasa, bahkan daya pikir mereka sudah terbentuk sejak usia dini itu.

Untuk itu, perlu ditumbuhkan jiwa kreativitas mereka agar kelak menjadi generasi yang berkualitas.

"Sejak saya mengelola PAUD dua tahun lalu ternyata animo masyarakat sangat tinggi," jelasnya.

LAMONGAN, SELASA- Dalam rangka memeriahkan hari anak nasional, Forum Pendidikan Anak Usia Dini, Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini, dan Ikatan Penilik Indonesia Lamongan, Selasa (5/8), menggelar pawai dengan 452 becak. Pawai diawali kereta kelinci yang ditumpangi anak-anak PAUD diiringi ratusan becak yang sudah dihias warna-warni dengan berbagai tema. Mulai dari binatang, tanaman hias dan buah-buahan.

Kepala Dinas Pendidikan Lamongan Mustofa Nur mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan lingkungan kepada anak-anak yang masih berusia dini, terutama terkait lalu lintas.

Ketua Forum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Lamongan Ny Endang Riyanti Mafuk mengatakan, peserta didik PAUD di Lamongan sebanyak 1.350 anak diarak keliling kota Lamongan melalui jalan-jalan protokol.

Dia menjelaskan, lembaga PAUD di Lamongan berkembang pesat, hingga Juli 2008 mencapai 838 lembaga. "Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Pemkab dan masyarakat Lamongan sangat peduli terhadap pendidikan anak usia dini," ujar Endang.

Menurut Endang masih diperlukan sosialisasi lebih maksimal kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan usia dini sebelum memasuki Taman Kanan-kanan (TK). Perkembangan anak di awal-awal kehidupannya merupakan saat yang tepat untuk memberikan rangsangan belajar dan pengalaman yang berharga.

Momen hari anak nasional merupakan saat tepat untuk menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini. Diharapkan, dalam perkembangannya anak-anak mampu mengenal lingkungan dengan baik dan tumbuh mandiri.

JAKARTA, SELASA - Layanan pendidikan bagi anak usia emas 0-6 tahun atau dikenal dengan pendidikan anak usia dini terus ditingkatkan. Hingga akhir tahun lalu, sebanyak 48,32 persen dari total 28,24 juta anak usia 0-6 tahun terlayani di PAUD formal dan nonformal.

Mudjito AK, Direktur Pembinaan SD dan TK Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta, Selasa (4/11), mengatakan perluasan akses anak-anak usia TK dilakukan dengan menyediakan TK di setiap kecamatan atau menyelenggarakan TK di SD yang sudah ada atau sekolah TK-SD satu atap. Anak usia dini yang terlayani PAUD formal dan nonformal meningkat dari tahun 2004 yang berjumlah 39 persen menjadi 48 persen lebih.

Layanan PAUD ini kini berkembang secara nonformal hingga ke tingkat RT/RW. Anak yang dilayani di jenjang TK/Raudhatul Athfal (RA) atau PAUD formal berjumlah 4,2 juta, sedangkan di PAUD nonformal sebanyak 6,8 juta.

Luluk Asmawati, Dosen PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta, mengatakan kesadaran mengenai pentingnya mengoptimalkan PAUD dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat yang terlihat meningkat. Namun, jangan sampai layanan PAUD yang diberikan kepada anak usia 0-6 tahun itu terfokus pada target supaya anak bisa cepat membaca, menulis, dan menghitung semata.

Luluk mengatakan dalam usia emas itu yang dibutuhkan anak adalah stimulasi yang tepat dan menyenangkan untuk mengembangkan beragam kecerdasan atau multiple intelligence. "Anak jangan di-drill untuk membaca, menulis, dan menghitung dengan paksa. Sebab, otak anak akan jenuh, malah nantinya di usia belajar dia tidak punya minat lagi untuk belajar," ujar Luluk.