Senin, 25 Mei 2009

77 siswa SD Jakpus Tidak Ikuti UASBN
Artikel Terkait

Kota, Warta Kota

Sebanyak 77 murid SD di Jakarta Pusat tidak mengikuti ujian akhir semester berstandar nasional (UASBN), yang digelar mulai Senin (11/5) hingga Rabu (13/5) mendatang.

Para siswa tersebut pada umumnya memberikan surat keterangan sakit sehingga tak bisa ikut ujian. Meski demikian, para siswa yang absen pada UASBN hari pertama ini tetap diberi kesempatan untuk mengikuti UASBN susulan yang digelar pada Senin (18/5).

"Siswa yang tidak melaksanakan UASBN hari ini masih diberi kesempatan untuk mengikuti UASBN susulan pada Senin mendatang," ujar Zainal Soleman, Kasudin Dikdas Jakarta Pusat.

Sesuai jadwal, UASBN hari pertama mengujikan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hari kedua yang diujikan Matematika, dan hari ketiga Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pelaksanaan UASBN dimulai pukul 08.00 sampai 10.00.

Sudin Pendidikan Dasar (Dikdas) Jakarta Pusat mencatat bahwa jumlah seluruh peserta UASBN 2009 di Jakarta Pusat sebanyak 13.218 siswa (SD negeri/swasta) dan 253 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri.

Jika pada pelaksanaan UASBN tahun ajaran 2008 angka kelulusan siswa rata-rata di Jakarta Pusat adalah 7, 14, maka tahun ini, Sudin Dikdas Jakarta Pusat menargetkan angka kelulusan rata-rata 7,5.

"Tahun lalu tingkat kelulusan 100 persen, maka pada tahun ini pun kami menargetkan tingkat kelulusannya juga 100 persen," imbuh Zainal.

Mengenai kriteria kelulusan, kata Zainal, akan ditentukan oleh pihak sekolah yang sebelumnya diputuskan melalui forum rapat antara kepala sekolah, komite sekolah, dan orangtua murid. Masing-masing sekolah memiliki perbedaan dalam menentukan kriteria angka kelulusan.

Sementara, hari pertama UASBN, Zainal dan Wali Kota Jakarta Pusat, Sylviana Murni, mendampingi Gubernur Fauzi Bowo dan Wagub Prijanto serta Kepala Dinas Pendidikan DKI yang meninjau pelaksanaan UASBN di SDN Johar Baru 01.

Di sana Sylviana menyebutkan bahwa secara umum pelaksanaan UASBN di Jakarta Pusat tahun 2009berjalan cukup kondusif. Seluruh materi soal UASBN selalu dijaga ketat aparat kepolisian sejak dari percetakan hingga ke sub rayon dan sekolah-sekolah.

"Dari pantauan kami di lapangan, pelaksanaan UASBN di Jakarta Pusat berjalan kondusif. Siswa mengerjakan dengan tenang karena sebelumnya telah mengikuti try out," kata Zainal.

Sementara, Kepala Seksi Pendidikan Sekolah Dasar Sudin Dikdas Jakarta Pusat, Uripasih mengatakan, seluruh materi ujian disimpan di gudang penyimpanan sub rayon, yang terdapat di 6 rayon. Setiap harinya, materi ujian baru dapat diambil oleh para kepala sekolah pada Pukul 05.00 di sub rayon.

"Semua naskah ujian disimpan di gudang dalam kondisi terkunci dan dijaga aparat kepolisian, sehingga kecil kemungkinan terjadi kebocoran soal," katanya. (Sigit Nugroho)

Potret Suram di SDN Bekasi

Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad telah memenuhi janjinya menyediakan pendidikan dasar gratis di SDN. Bahkan untuk SMPN mulai tahun 2009 ini juga sudah berlaku efektif. Saya sebagai warga Bekasi sungguh menyampaikan terima kasih.

Namun, di lapangan masih ditemukan beberapa tindakan yang tidak sejalan bahkan bertolak belakang dengan semangat Pemkot Bekasi membantu meringankan beban biaya pendidikan bagi masyarakat. Uang sekolah memang gratis, tetapi sekarang orangtua murid justru mengeluarkan uang yang kalau dihitung jumlahnya berkali lipat dari besarnya biaya SPP yang sebelumnya harus mereka bayar. Modus yang digunakan oknum guru sekolah tersebut adalah:
1. Hampir semua guru (wali kelas) SDN VI Padurenan Bekasi menawarkan kepada muridnya untuk les di rumah guru ybs dua kali seminggu dengan bayaran Rp 100.000 per murid per bulan. Memang guru itu tidak secara langsung mengatakan besaran biaya les, tapi melalui orangtua murid yang menjadi penghubung atau perantara guru.
2. Di samping wali kelas, guru mata pelajaran juga melakukan hal yang sama, seperti guru bahasa Inggris, komputer, dan agama. Jika dihitung, berapa ratus ribu rupiah sebulan orangtua murid harus mengeluarkan uang untuk biaya pendidikan SD yang katanya gratis?
3. Memang les-les tersebut tidak ada ketentuan yang mewajibkannya, tapi bagi orangtua murid yang anaknya tidak ikut les akan mendapatkan perlakuan dan perhatian yang berbeda dari guru ybs di sekolah. Akibatnya, ada murid yang diperhatikan, sebaliknya ada yang diabaikan.
4. Dengan adanya les di rumah, guru mengajar di sekolah tidak optimal, sering meninggalkan kelas, menjelaskan ala kadarnya. Ketika banyak murid yang tidak memahami pelajaran atau nilainya jatuh, keadaan ini digunakan si guru untuk menawarkan les ke rumah kepada sang murid.
5. Untuk pengadaan buku pelajaran dan baju seragam (olahraga) yang seharusnya tidak boleh lagi dilakukan sekolah, pada praktiknya tetap saja dikoordinir oleh sekolah dengan menunjuk salah seorang wali murid sebagai agen tempat penjualan buku. Judul buku dan pengarangnya tidak pernah diberitahu pihak sekolah secara terbuka sehingga memaksa orangtua murid berhubungan dengan agen buku sekolah tersebut. Setelah semua murid memiliki buku (saat ujian semester berjalan), barulah judul dan pengarang buku tersebut ditempel di sekolah, seolah-olah sekolah sudah transparan dalam pengadaan buku.
Kepada Bapak Wali Kota Bekasi yang dikenal memiliki komitmen tinggi untuk pendidikan dan selalu bertindak cepat terhadap aparatnya yang berbuat salah, serta Kepada Dinas Pendidikan Kota Bekasi, bagaimana kita akan menjadikan dunia pendidikan sebagai basis membangun moral dan budi pekerti bila di tingkat pendidikan dasar mereka sudah mengalami perlakuan dan tindakan yang tidak menjunjung nilai moral dan etika?
Mohon kiranya Komite Sekolah yang sudah mati suri sejak dibebaskannya biaya pendidikan di SDN dan SMPN dapat diaktifkan kembali. Paling tidak sebagai sarana kontrol perilaku guru dan sekolah yang tidak menjunjung tinggi moral dan etika pasukan pahlawan tanpa tanda jasa, serta penyambung kepentingan orangtua murid dan sekolah, itu.
Atas perhatian Bapak Wali Kota Bekasi dan pejabat terkait, kami ucapkan terima kasih.
Eat Locally, Work Globally
Biar Makan Tempe, Tetap Pede

Hayooo...apa yang bakal langsung terlintas di pikiran kita-kita saat ditanya mau ngapain setelah lulus sekolah atau kuliah? Kebanyakan dari kita pasti langsung kepikiran untuk bekerja sesuai dengan kesukaan dan keahlian kita...

Bayangan kita tentang kerja bisa macem-macem, entah kerja bakti, jadi karyawan, buka distro atau perusahaan kreatif, sampai-sampai jadi caleg (secara kita lagi demam pemilu legislatif nih!). Walaupun bayangan ideal tentang dunia kerja bisa beda-beda (apalagi buat kita yang katanya masih keren, eh, labil..), kita bisa mempersiapkan diri mulai sekarang.

Pas banget, Binus Language Training Center (BNLC) menyelenggarakan seminar menyangkut dunia kerja pada hari Selasa, 23 Maret 2009. Seminar gratis yang bertema ”Preparing Excellent Interview in English for Your International Career” ini ternyata menarik banget, guys. Mulai dari tema, pembicara, hingga seminarnya sendiri. Wajar aja, seminar yang diadakan di Auditorium Kampus Anggrek-Universitas Bina Nusantara, Jakarta, ini dipenuhi sama 600-an mahasiswa. Wuih...!

Sesuai dengan temanya, seminar ini menitikberatkan ”wawancara dalam bahasa Inggris” (English interview) dalam rangka menjejaki karier internasional. Karena merupakan lingua franca yang mendunia, bahasa Inggris penguasaannya menjadi esensial sekali.

Liat aja, dari usia dini anak-anak udah diajarin bahasa yang satu ini. Sampai kuliah pun, tetep aja ada mata kuliah bahasa Inggris! Namun, apalah artinya fasih berbahasa Inggris kalo nggak bisa mengaplikasikannya! Apalagi dalam rangka menapaki karier internasional. Karier internasional nggak selalu berarti bekerja di luar negeri lho, tetapi bisa juga bekerja pada perusahaan multinasional atau perusahaan asing yang tersebar di Indonesia.

Hemm.., tentunya kefasihan berbahasa Inggris dalam bentuk teori yang kita dapatkan kudu bisa memfasilitasi kita mendapatkan pekerjaan ya! Langkah pertama, tentunya saat wawancara (berbahasa Inggris tentu)!

”Sering banget pelamar sibuk memerhatikan grammar (kaidah dalam bahasa Inggris—Red). Padahal kami juga nggak punya cukup waktu untuk memerhatikan apakah grammar dia salah atau benar!” ungkap Emeralda Zoelkarnain sambil tertawa.

Manager Strategic Resourcing Sampoerna-Philip Morris Indonesia itu kemudian menambahkan bahwa lebih penting untuk berbicara secara jelas dan runut. ”Jawablah pertanyaan dengan simpel. Keep it concise,” katanya. Prinsip ini penting banget, apalagi di saat kita kehilangan kosakata yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu. ”Answer directly. Usahakan untuk menjawabnya tetap dalam bahasa Inggris,” pesan Emeralda lag
Kenalkan Bahasa Lewat Cerita

BANYAK cara dilakukan orangtua untuk menyiapkan anaknya agar bisa bersaing di era globalisasi ini. Salah satunya dengan mengajari bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, sejak usia kanak-kanak. Cara yang lazim dilakukan adalah memasukkan sang anak ke lembaga kursus.

Masalahnya, di Indonesia yang bahasa resminya bukan bahasa Inggris tentu perlu usaha keras agar anak bisa ber-cas-cis-cus dengan bahasa asing itu. Sementara mengikuti kursus juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bisakah mengajari anak berbahasa asing dengan cara yang lebih hemat? Tentu bisa, terutama jika dilakukan sejak usia dini.

Orangtua tidak harus keluar uang banyak asalkan mau meluangkan waktu untuk membacakan cerita bagi anak. Tentunya cerita dalam bahasa asing seperti bahasa Inggris. Hasilnya tak kalah dahsyat. Anak akan merekam kosa kata bahasa asing itu meski dia belum paham benar.

”Ketika bayi mungkin waktunya cukup 3 menit, tapi semakin besar si anak, bisa ditambah menjadi sedikitnya 20 menit setiap hari untuk membacakan cerita. Bisa dilihat efeknya dahsyat,” kata pendiri komunitas Reading Bugs, Roosie Setiawan, dalam talkshow ‘Melatih Kemampuan Anak dalam Menyimak Melalui Cerita’ di Auditorium Museum Bank Mandiri, pekan lalu.

Dijelaskan, orangtua bisa mengenalkan bahasa Inggris lewat cerita. Ketika orangtua membacakan cerita, otak bayi dan anak balita seperti spons yang menyerap seluruh informasi. Termasuk ketika orangtua ingin ‘memasukkan’ kosa kata bahasa Inggris.

”Apa yang terjadi ketika membacakan cerita bukan hanya bacaan saja (yang ditangkap anak) tapi juga kedekatan orangtua. Juga memberi stimulus otak anak dengan cara yang menyenangkan. Secara alami manusia senang melakukan hal yang menyenangkan,” ujar Roosie.

Konsisten
Ketika cerita itu mengalir dari mulut orangtuanya, kosa kata baru pun terserap oleh anak. Setelah cukup kosa kata, mulai ada ketrampilan bicara, kemudian maju lagi dengan kemampuan membaca, dilanjutkan kemampuan menulis.

”Otak yang berisi sel yang mencapai triliunan membuat kemampuannya begitu dahsyat. Jadi memberikan bacaan dua bahasa tidak akan membuat otak anak penuh,” ujarnya. Anak pun akan lebih mudah mempelajari bahasa Inggris, karena kata-kata yang diajarkan seolah-olah begitu familiar dan lebih mudah dimengerti.

Biar bagaimanapun bahasa Inggris bukanlah bahasa ‘ibu’ atau bahasa yang dipakai sehari-hari. Bahasa Indonesia tetaplah bahasa yang sering didengar anak sehari-hari. Terlebih, tidak sedikit orangtua yang harus bekerja dan anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengasuh atau pembantu yang notabene tidak bisa berbahasa Inggris.

Namun, orangtua tidak perlu kecil hati. Asal konsisten, anak tidak akan bingung menyerap dua bahasa bahkan lebih. ”Terpenting harus konsisten. Orangtuanya — bisa ayah atau ibu— konsisten membacakan cerita dengan bahasa Inggris, sedangkan dengan pengasuh berbahasa Indonesia,” kata Roosie. (Lilis Setyaningsih)

Sudah Bacakan Dongeng untuk Anak?

SIAPA yang tidak ingin punya anak cerdas, penuh pengertian, baik hati, dan penuh cinta? Kalau Anda menginginkan anak seperti itu, biasakan mendongengkan cerita kepadanya sejak dini, bahkan sejak anak dalam kandungan. Anak yang masih polos dan suci akan dengan mudah menyerap apa pun informasi yang kita berikan, termasuk pesan yang disampaikan melalui dongeng dan gambar.

Miyako Matsumoto, pembina play group di Sumida District Tokyo menjelaskan, melalui buku dongeng bergambar yang menarik, bayi akan tertarik melihat gambar yang ditunjukkan orangtuanya. Buku bergambar bukan hanya membantu dalam perkembangan bahasa anak, tetapi yang paling penting adalah memberi kesempatan berbagi waktu dan perasaan (perkembangan sosial) dengan orangtua. Bukan hanya itu, mendongeng untuk anak juga memberikan ketenangan hati, menumbuhkan serta mengembangkan perasaan cinta anak kepada buku.
”Untuk anak di bawah 3 tahun, orangtua yang menyesuaikan diri kepada mereka. Buku yang dianggap menarik bisa minta dibacakan berulang kali dan akan dihafal oleh anak-anak,” ujar Matsumoto saat menjadi pembicara dalam seminar sehari ‘Anak, Buku, dan Dunia Dongeng’ yang diadakan oleh Japan Foundation Jakarta, Selasa (3/3).
Kadang-kadang, kata Matsumoto, walaupun belum bisa membaca, anak kelihatan asyik ‘membaca’ buku sendiri, bahkan mengubah kalimat dalam buku, karena sudah memiliki kemampuan kreatif. Orangtua jangan melarang atau mengoreksi imajinasi anak tersebut.
Ia juga menambahkan, bagi anak yang sudah bisa membaca sekalipun, tetap ada perbedaan kenikmatan antara dibacakan dan membaca dongeng sendiri. Jadi sebaiknya orangtua tetap punya waktu untuk mendongengi anak, sekalipun si anak sudah beranjak besar.
Menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, membacakan dongeng untuk anak usia balita atau untuk anak usia SD, SMP, bahkan SMA sekalipun, tetaplah sama. Perbedaannya hanya pada materi ceritanya.
”Tetap dikaitkan dengan hal yang menyenangkan, seperti dengan warna-warni atau games. Misalnya dongeng dengan sejarah penangkapan Pangeran Diponegoro. Intinya mengaktifkan otak kanan sehingga akan lebih mudah ingat melalui gambar, syair, atau warna-warni,” kata pria yang akrab dipanggil Kak Seto tersebut.
Dikatakan, semakin bertambah usia anak, tulisan dalam buku akan semakin dominan menarik perhatiannya. Sementara semakin dini usia anak, gambarlah yang lebih dominan. ”Buku untuk bayi bisa terbuat dari kain atau bahan yang tidak mudah sobek. Tapi kalaupun pada akhirnya buku tersebut sobek, ya tidak perlu dimarahi, karena itu merupakan tahap pengenalan bayi terhadap buku,” kata Kak Seto lagi.
Buku bergambar
Mengapa perlu memberikan buku bergambar alias buku cerita yang dominan gambarnya, kepada anak sejak dini? Yoshimi Hori, pendiri Jakarta Japan Network (J2net), mengatakan, manusia memiliki hal-hal yang harus dipelajari pada setiap usia pertumbuhannya, di mana hanya pada saat itulah hal tersebut bisa didapat.
Dunia imajinasi yang didapat dari cerita atau dongeng melalui buku bergambar dapat tumbuh dari usia balita sampai usia 8 tahun. Oleh karena itu penting sekali bagi anak balita untuk memiliki ruang (dalam hati) imajinasi. Pengalaman tersebut akan terus tersimpan di dalam hati seiring dengan pertumbuhannya, tetapi akan sulit didapat setelah menjadi dewasa. Kelak dalam pertumbuhannya, anak akan dapat membedakan dunia nyata dan dunia imajinasi.
Hori juga menyatakan, penting bagi orangtua untuk memisahkan waktu membaca buku dari kegiatan belajar. Pilihlah waktu yang tepat agar Anda bersama anak Anda bisa menikmati ceritanya dengan baik. ”Harus memberikan waktu (khusus) untuk dongeng dan belajar. Nikmati dulu untuk menikmati cerita buku tersebut. Karena anak akan kehilangan selera jika tiba-tiba di tengah cerita Anda menyelipkan pertanyaan tentang angka,” katanya.
Wanita Jepang yang sudah tinggal di Indonesia sejak tahun 1997 mengikuti suaminya yang berdinas di Indonesia ini mengatakan, buku bergambar adalah alat untuk menyampaikan sesuatu yang penting dan memiliki nilai. ”Dulu banyak keluarga yang masih tinggal dengan kakek dan nenek. Dari merekalah anak mendengar cerita secara lisan mengenai pengetahuan, budaya, adat, atau kondisi alam. Namun sekarang ini sudah jarang, sehingga buku dapat menggantikan peran tersebut,” papar Hiro.
Kalimat-kalimat pada buku bergambar memang dibuat khusus untuk memudahkan para orangtua atau orang yang sering membacakan buku untuk anak. Sambil melihat gambar yang ada di buku, anak bisa mendengarkan cerita yang dibacakan oleh orang yang disayanginya dengan rasa gembira. Oleh karena cerita itu dibacakan oleh orang yang mereka sayangi dan percaya, mereka dapat mengikutinya dengan tenang, walaupun isi dari cerita itu menyeramkan atau mengejutkan, atau ada adegan yang seru dan membuat rasa penasaran. (lis)
Cireundeu, Warta Kota
Sebanyak 100 tim hari Se­la­sa (31/3) ini akan menyemprot­kan air di kawasan hilir Situ Gin­tung untuk membersihkan lumpur yang terbawa air bah ketika tanggul Situ Gintung je­bol Jumat (27/3) pagi. Dengan penyemprotan, diharapkan kor­ban yang tertimbun lumpur dapat ditemukan.
Kepala Pusat Krisis dan Ben­cana Departemen Kesehatan, Rus­tam Pakaya, mengatakan pe­nyem­protan akan dilakukan mu­lai pukul 07.00. ”Setiap tim terdiri atas tiga personel se­hingga ada 300 orang menyemprot lo­ka­si hingga satu kilometer dari tanggul,” katanya, Se­nin (30/3).
Menurut Rustam, pe­nyem­prot­­an merupakan teknik mem­­ber­sih­kan lumpur dan sam­pah yang menumpuk di lo­kasi bencana. Peng­­gelontoran ini bertuju­an mencegah merebaknya pe­nya­kit-penyakit yang biasa muncul pas­cabanjir. Di­ha­rapkan, pe­nyem­protan juga me­r­ingankan tugas tim SAR da­lam mencari kor­ban.
Kemarin atau hari keempat tra­­gedi Situ Gintung, pencarian kor­ban dilakukan tim SAR mau­pun ma­syarakat. Namun, hingga Se­­nin petang, tak ditemukan satu pun korban. De­ngan de­mi­kian, jum­lah korban te­was pada benca­na Situ Gin­tung sama de­ngan da­ta yang di­ke­luarkan se­hari se­be­lum­nya.
Pusat Krisis dan Bencana Dep­­kes mencatat korban tewas tragedi Situ Gintung mencapai 99 jiwa se­­dangkan korban hi­lang tinggal lima. Namun, Pos­ko Situ Gintung mencatat korban tewas mencapai 99 orang, kor­ban luka 190, dan kor­ban selamat mencapai 139 orang. Hing­ga semalam, belum di­­per­oleh klarifikasi atas perbedaan angka korban jiwa ini.
Sejumlah sukarelawan, ke­ma­­rin, membersihkan lumpur di pe­la­taran maupun kantor, ruang ku­­liah, dan perpusta­ka­an Uni­ver­­sitas Muhammadiyah Ja­karta (UMJ). Sejumlah pe­ra­bot kampus se­perti meja, kur­si, dan komputer ter­kena lum­pur yang dibawa air bah pada mu­sibah Jumat pagi pe­kan lalu.
Pihak UMJ mengizinkan kam­­pus­nya digunakan sebagai lokasi pengungsian selama dua minggu terhitung sejak jebolnya tanggul Situ Gintung atau Jumat lalu. Se­­te­­lah itu, kampus harus di­ko­song­kan dari pengungsi karena akan digunakan untuk per­ku­liah­­an.
Rektor UMJ Dr Hj Masyitoh MAg minta Pemkot Tangerang Se­­­latan mengambil alih pe­nang­an­an para korban. Di kam­pus UMJ, pa­ra pengungsi di­tampung di tiga ge­dung fa­kultas an­tara lain Fa­kul­tas Ke­dok­teran dan Fakultas Hu­kum.
Menurut Masyitoh, akibat je­bol­nya tanggul Situ Gintung pi­hak UMJ menderita kerugian se­­nilai Rp 10 miliar, termasuk be­­ru­pa kerusakan bangunan. Se­­ba­nyak lima gedung menga­la­mi ru­sak berat di antaranya ge­dung Fa­­kultas Pertanian, la­boratorium, sarana pendidikan anak usia dini dan taman ka­nak-kanak, serta ge­dung Unit Bis­nis Center yang ter­diri atas laboratorium dan ko­perasi.
Menurut Masyitoh, per­pus­ta­ka­an UMJ maupun ko­lek­si­nya juga rusak parah. Selain itu data pa­ra mahasiswa juga hi­lang atau­­pun rusak. Se­men­tara tiga mo­bil kampus hilang sedangkan delapan kendaraan lainnya rusak pa­rah, ter­ma­suk dua bus kampus. ”Saya kira nggak bisa lagi diperbaiki,” katanya di kampus UMJ, ke­marin. Masyitoh berharap pe­me­­rintah membantu pemulih­an kampus UMJ.
Para petugas pemadam ke­ba­­­karan, kemarin, menyem­prot­­kan air ke wilayah paling de­kat de­ngan tanggul yang merupakan wilayah yang mengalami ke­ru­sak­­an terparah. Petugas juga meng­guna­kan alat-alat be­rat untuk me­nyingkirkan re­run­tuh­an bangun­an maupun sampah.
Dengan dibersihkannya lo­ka­si tersebut, warga kesulitan menemukan lokasi rumahnya. Pa­­­da­hal di lokasi itu tadinya ada 319 rumah, termasuk mi­lik Mulyadi, yang mengaku ting­gal di ka­wa­san itu sejak 1967. Mulyadi juga mengakui ta­nahnya belum ber­ser­tifikat. ”Warga di sini hanya me­miliki gi­rik,” ujarnya. Mulyadi ber­ha­rap pemerintah memberi ke­mu­dahan bagi korban Situ Gin­­tung untuk mendapatkan ru­mah.
Hingga kemarin, puluhan orang dari luar Cireundeu da­tang ke lo­kasi bencana Situ Gin­­tung se­ka­dar untuk me­muas­­kan rasa ingin tahunya. (yos/sab)
Pentingnya Bermain sambil Belajar
> Dari Memandikan sampai Menidurkan Anak

Cerdas juga berarti dapat mengembangkan kemampuan, potensi serta kapasitas yang ada dalam diri sebaik mungkin. Dengan demikian, kelak anak akan tumbuh menjadi anak yang sehat, mandiri, pintar, dan gembira.
”Setiap orangtua harus betul-betul mengenal anaknya dengan sangat baik, karena setiap anak sama halnya dengan setiap individu, adalah unik. Tidak ada satu pun pribadi yang sama dengan pribadi lainnya. Demikian juga dengan anak-anak,” kata ahli pendidikan anak usia dini Lely Tobing dalam acara ’Huggies Creative Bond Play Series’ di Jakarta Selatan, belum lama ini.
Menurut Lely, orangtua yang mengenal anaknya dengan sangat baik tentu mengetahui kebutuhan si anak, terutama tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan anaknya. Faktor-faktor tersebut di antaranya rangsangan atau stimulasi sejak dini, kualitas asupan gizi, dan pola pengasuhan yang tepat serta kasih sayang terhadap anak.
”Stimulasi bisa berupa bermain dengan anak. Stimulasi itu penting diberikan sejak dini, karena setiap tahapan perkembangan akan mempengaruhi kualitas perkembangan anak serta kesiapannya untuk tahapan perkembangan selanjutnya. Jika anak menerima kulitas tahapan perkembangan dengan baik maka ia akan lebih mandiri dan gembira dengan dirinya,” kata Lely.
Dikatakan pula, bermain yang dimaksud adalah bermain sambil belajar. Selain dapat mengembangkan tingkat kreativitas anak berusia di bawah tiga tahun (batita), bermain sambil belajar juga dapat menciptakan kedekatan antara ibu dan anak, merangsang berbagai perkembangan anak, serta menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan.
Aktivitas bermain sambil belajar dapat pula melatih keterampilan motorik kasar yang juga mempengaruhi otak anak. Dengan bergerak, komunikasi antarsaraf akan lebih lancar sehingga dapat membantu anak agar siap berpartisipasi dan memiliki performa lebih baik pada usia sekolah.
Ada lima aktivitas bermain sambil belajar yang perlu diketahui para ibu, terutama ibu-ibu yang bekerja dan mempunyai keterbatasan waktu. Kelima aktivitas itu adalah bermain (playing), saat memberi makan (feeding), memandikan (bathing), menidurkan (sleeping), dan bepergian (traveling).
Ibu yang sibuk tapi tetap ingin meluangkan waktu untuk bermain bersama anaknya dapat mencontoh aktivitas bermain sambil belajar ini. Waktunya sekitar 30 menit. Meski begitu ibu dan anak dapat enjoy melakukannya.